Lamajang Tigang Juru Yang Terlupakan

Author: | Posted in sejarah indonesia No comments

makam pembesar lumajang

Lamajang Tigang Juru- sebelumnya pintasilmu.com telah membahas sejarah kota surabaya dan pada kesempatan kali ini pintasilmu.com akan mengupas tentang sejarah sejarah lamajang tigang juru yang terlupakan.

Lumajang kerap sekali dijuluki sebagai daerah tapal kuda di Provinsi Jawa Timur. sebab letaknya diapit oleh Gunung Semeru, Gunung Lamongan, dan Gunung Bromo. Akibat diapitnya ketiga gunung itu menjadikan lumajang sangatlah subur.

Lumajang sudah ada sejak zaman Kerajaan Daha pada waktu pemerintahan Wisnuwardhana. Pada prasasti Mula Malurung juga sudah tertulis nama kuno Lumajang yakni “Lamajang”. Prasasti ini diketemukan sekitar 1255 masehi serta nama Lamajang dikenal secara resmi.

Secara spiritual nama Lamajang memilikir arti luma (rumah) dan Hyang (Dewa). atau bisa diartikan sebagai rumahnya para Dewa atau rumah yang suci. Jika dilihat dari segi material orang yang melihat daerah lumajang dari timur Gunung Semeru akan terlihat seperti Lumah atau tempat yang subur dan makmur.

Sejarah Lamajang Tigang Juru Zaman Kerajaan Singosari

petilasan lamajang tigang juru

Lamajang pada zaman Kerajaan Daha dan Singosari merupakan tempat yang sangat penting bagi kedua kerajaan tersebut. Pada zaman Kerajaan Daha, di Gunung Semeru yang termasuk wilayah lumajang dijadikan sebagai tempat spiritual. Bukti otentiknya yakni, ditemukannya Prasasti Tesirejo dan Arca Lembu Nandini.

Sedangkan pada zaman Kerajaan Singosari, Lamajang dijadikan tempat lumbung kebutuhan kerajaan. Yang saat ini dikenal dengan nama Candipuro. Hal ini dibuktikan dengan diketemukannya Candi Gedong Putri. Pendiri pertama kerajaan lamajang  adalah adipati Sumenep yakni Banyak Wide atau Arya Wiraraja.

Banyak wide lahir di daerah Nangkaan (Ranuyoso). Awal pengabdian banyak wide dimulai  dari pengabdian kepada Wangsa Rajasa. dikarenakan kecerdasannya, Banyak Wide diangkat sebagai adipati di Sumenep oleh Raja Singosari. Selain itu, sewaktu Raden Wijaya melarikan diri ke Madura, Banyak Wide menyambut hangat keluarga Raden Wijaya dan membantu melawan Jayakatwang dan pasukan Mongol.

Saat jawa sudah mulai tenang, berdasarkan isi perjanjian Sumenep, Raden Wijaya memecah Jawa Timur menjadi 2 bagian yakni, Jawa Timur bagian barat bernama Majapahit dan Jawa Timur bagian Timur bernama Kerajaan Lamajang Tigang Juru. Lamajang Tigang Juru berdiri hampir berbarengan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Lamajang Tigang Juru di rajai oleh banyak wide atau arya wiraraja. Nama gelar Arya Wiraraja mempunyai arti “seorang pembesar dan pemimpin yang berani”. Keraton Kerajaan Lamajang Tigang Juru ini letak nya berada di Arnon atau yang saat ini bernama Kutorenon. Di sana selain ada keraton kerajaan, juga terdapat juga benteng serta 3 sungai besar.

3 sungai besar itu yakni, Bondoyudo di sebelah timur, Bodang atau Wingong di sebelah timur, dan Ploso di sebelah barat, sedangkan 1 sungai buatan, yaitu Cangkring ada di sebelah selatan. Situs benteng ini dilengkapi dengan menara pengawas yang saat ini ada 6 pengungakan. Tempat keraton ini tepat berada di Lamajang Tengah sehingga mempermudah untuk memantau daerah Lamajang Utara.

Kerajaan Lamajang Tigang Juru dengan Kerajaan Majapahit mempunyai jalinan persaudaraan yang baik sebab kedua raja tersebut saling menghormati satu sama lain. Hal ini ditandai dengan diletakannya anak-anaknya serta kerabat dekat Arya Wiraraja untuk mengabdi di Kerajaan Majapahit.

Namun, hubungan kedua kerajaan ini mulai retak dengan diawali pemberontakan Ronggolawe yang iri dengan pengangkatan Nambi . Selain hal itu, fitnah yang dilancarkan Mahapati juga turut mempengaruhinya. Pergantian kedudukan raja Kertarajasa ke anaknya yakni Jayanegara merupakan awal munculnya perang dingin antara Lamajang Tigang Juru dengan Majapahit.

Karena adanya Arya Wiraraja menjadikan Jayanegara menghentikan sementara perang melawan Lamajang sebab Arya Wiraraja merupakan tokoh penting yang di hormati di Majapahit. Saat meninggalnya Arya Wiraraja, pada saat kepulangan nambi ke Lamajang nambi mendapat serangan dadakan dari prajurit Majapahit.

Akibat serangan taktik licik akhirnya nambi gugur dalam peperangan tersebut. sesudah kematian Nambi, kerajaan Lamajang Tigang Juru akhirnya dapat dikuasai oleh kerajaan majapahit. nampaknya sebelum di dirikan kerajaan Majapahit, Raden Wijaya membuat kesepakatan dengan Aria Wiraraja. Dalam Kitab Pararaton disebutkan, bekas kerajaan Singosari dipecah menjadi dua bagian.

bagian barat meliputi Daerah Singosari, Kediri, Gelang-Gelang (Ponorogo) dan Wengker dengan ibu kota Majapahit di Mojokerto. Sedangkan di bagian timur meliputi Daerah Lumajang, Panarukan, Blambangan, Madura dengan ibu kota di Katurenon (Kawasan Situs Biting) dengan raja Aria Wiraraja.

Peranan Penting Aryawiraraja (Minak Koncar)

pembesar lumajang

Perjanjian itu tertulis dalam Prasasti Pudadu. di dalam situs itu, ada beberapa petilasan-petilasan Arya Wiraraja atau masyarakt sekitar menyebut Banyak Wide atau Minak Koncar. Setidaknya, terdapat bangunan cungkup yang berisi makam Aria Wiraraja. Namun, belum cukup dibenarkan apakah makam itu betul-betul makam Raja Minak Koncar atau bukan.

Masyarakat sekitar meyakini bahwa itu benar-benar  makam Aria Wiraraja. Selain itu, di Sumenep juga tidak ditemukan mengenai makam Aria Wiraraja. Di sekitar situs itu juga ada sejumlah petilasan-petilasan seperti makam Minak Koncar dan Sumur Windhu. Aria Wiraraja mempunyai begitu banyak keturunan.

Setidaknya terdapat  tiga yang utama yakni, Mahapatih Nambi, Ronggolawe. dari Ronggolawe inilah yang selanjutnya terhubung keturunan generasi keempat, yakni Raden Sahid atau Sunan Kalijaga. Ketiga, Adipati Suradhikara yang berikutnya melanjutkan  kepemerintahan tersebut. kerajaan Lamajang Tigang Juru kemudian melengserkan raja-raja di kerajaan Panarukan dan Blambangan.

seperti Prabu Tawang Alun. kemudian, kerajaan Lamajang Tigang Juru mengalami masa keruntuhan dikarenakan terjadi kesalah Pahaman dengan kerajaan Majapahit. Situs Biting adalah sebuah situs arkeologis yang berada tepat di desa Kutorenon, kecamatan Sukodono, Lumajang, provinsi Jawa Timur. Situs tersebut diduga merupakan peninggalan dari kerajaan Lamajang. Bangunan yang paling mengagumkan  adalah sisa tembok benteng dengan ukuran panjang 10 km lebar 6m tingginya10m.

daerah Biting merupakan daerah ibu kota kerajaan Lamajang Tigang Juru yang di rajai oleh Prabu Arya Wiraraja. Dalam Negara Kertagama, daerah ini disebut Arnon dan seiring perkembangan zaman pada abad ke-17 di kenal dengan Renon kemudian sekarang bernama desa Kutorenon.

dalam cerita rakyat berhubungan dengan kata Ketonon  atau terbakar. Nama Biting sendiri bermula pada kata Madura bernama Benteng. Pada tahun 2010 Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) menggalakan advokasi pelestarian Situs Biting. sesudah itu Komunitas Mahasiswa Peduli Lumajang (KMPL) ikut turut berpartisipasi dalam advokasi tersebut.

Kini masyarakat Biting juga mulai menyadari akan peninggalan ataupun petilasan-petilasan sejarah yang ada di wilayahnya. penelitian yang digalakan oleh para pelestari Situs Biting telah memunculkan berbagai event seperti Napak Tilas. yang sudah diadakan selama 2 kali berturut-turut lomba lukis benteng maupun seminar Nasional.

acara Napak Tilas dijadikan agenda resmi Pariwisata Jawa Timur dari Kabupaten Lumajang yang digelar  setiap bulan juni. Di dalam prasasti Kudadu telah tertulis bahwasanya saat Raden Wijaya melarikan diri bersama 12 pengawal setianya ke Madura. Adipati Arya Wiraraja memberikan bantuan kepada raden wijaya dan setelah itu melakukan kesepakatan isi kesepakatan itu yakni, pembagian tanah Jawa menjadi 2 bagian.

Setelah itu Adipati Arya wiraraja berjasa besar atas Raden Wijaya termasuk mengusahakan pengampunan raden wijaya. terhadap Prabu Jayakatwang di Kediri dan babad alas hutan Tarik menjadi sebuah desa bernama Majapahit. Dalam babad desa Majapahit begitu besar jasa Adipati Arya Wiraraja dan pasukan Madura.

Raden wijaya sendiri mengunjungi Majapahit sesudah padi-padi menguning. perkiraan 10 bulan sesudah pendirian desa Majapahit tersebut. kemudian tibalah pasukan besar Mongol Tar Tar yang dipimpinan Jendral Shih Pi. Adipati Arya Wiraraja kemudian menyuruh raden wijaya untuk mengirim seorang utusan.

dan menyuruh untuk bekerja sama dengan pasukan besar mongol dengan iming-iming harta rampasan perang dan putri-putri Jawa yang cantik. Setelah disepakati oleh jendral Shih Pi maka digempurlah Prabu Jayakatwang dan akhirnya jayakatwang  gugur dalam perang itu.

Setelah kekalahan Kediri, Jendral Shih Pi menuntut hak atas putri-putri Jawa itu. Namun,dengan kecerdikan Arya Wiraraja utusan Mongol disuruh menjemput putri tersebut di desa Majapahit tanpa memakai senjata.

saat pasukan Mongol Tar Tar masuk desa majapahit tanpa senjata, tidak lama kemudian gerbang desa ditutup kemudian dibantainya para pasukan mongol itu oleh ronggolawe dan mpu sora. Setahun sesudah pengusiran pasukan Mongol Tar Tar. Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit yang wilayahnya meliputi Malang, Pasuruan, dan wilayah bagian barat lainnya. sedangkan di bagian timur berdiri kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja. Kerajaan Lamajang Tigang Juru ini sendiri menaklukan wilayah seperti Madura, Patukangan,Lamajang dan Blambangan.

Kelahiran Budaya Baru

situs lumajang

Dari pembagian itu melahirkan 2 kebudayaan yang berbeda di Provinsi Jawa Timur, dimana bekas dari kerajaan Majapahit memiliki budaya Mataraman, sedangkan bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru memiliki budaya Pendalungan (campuran Jawa dan Madura).

Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja)ini bertahta dari tahun 1293- 1316 Masehi. Sesudah meninggalnya Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja). salah seorang generasai penerusnya yaitu pati Nambi dibantai secara kejam oleh kerajaan Majapahit yang mengakibatkan Lamajang ketangan Majapahit.

Jatuhnya Lamajang ke tangan majapahit memicu kota-kota pelabuhannya seperti Sadeng dan Patukangan menggencarkan pemberontakan atau yang terkenal dengan nama Pasadeng dan ketha pada tahun 1331 masehi. Saat Hayam Wuruk mengadakan perjalanan keliling daerah Lamajang hayam wuruk tidak berani mendatangi ibu kota Arnon.

Malah peperangan kembali muncul saat adanya perpecahan Majapahit menjadi barat dan timur. pemberontakan masyarakat Lamajang kembali bergejolak lagi. Babad Tanah Jawi menjelaskan bahwa Sultan Agung merampas benteng Renong melalui Tumenggung Sura Tani sekitar tahun 1617 Masehi. Kemudian saat putra Untung Suropati terdesak dari Pasuruan, sekali lagi pemberontakan dipindahkan ke wilayah Arnon yang saat ini terkenal dengan nama Situs Biting Lumajang.

demikian ulasan mengenai Sejarah Kerajaan Lamajang Tigang Juru semoga bermanfaat>>>

No Responses

Add Your Comment