5 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Penjelasan Serta Gambar)

Author: | Posted in sejarah indonesia No comments

 

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya – di tulis dalam Sejarah Dinasti Tang bahwa ketika pada abad ke 7. Di pantai Timur Selatan telah Berdiri Kerajaan Sriwijaya dan sumber  informasi ini di peroleh dari sebuah prasasti yang di ketemukan di wilayah Sumatera bagian Selatan serta Pulau Bangka dan Belitung.

Didalam sumber prasasti ini banyak sekali terdapat kisah sejarah mengenai Kerajaan Sriwijaya missal nya Prasasti Ligor yang di dirikan pada tahun 775 Masehi di pantai Timur Thailand.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Pada Tahun 425, agama Budha telah di perkenalkan di Kerajaan Sriwijya tepatnya di kota Palembang. Dan sudah sekian banyak orang yang berziarah serta para ilmuwawn dari berbagai Negara di Asia.

Missal seperti, Pendeta Tiongkok I- Ching yang datang berkunjung ke Sumatera penelitian studinya ke Universitas Nalada. Ia menulis bahwa Sriwijya pernah mejadi tempat tinggal bagi ribuan Sarjana Budaha.

1. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur merupakan salah satu Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang di ketemukan di Pulau Bangka bagian barat dengan memakai tulisan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa.

Prasasti ini di temukan pertama kali oleh J.K der Meulen pada tahun 1892 yang isinya menceritakan sejarah mengenai kutukan untuk orang yang menentang tith dari sang raja. Kemudian prasasti ini di observasi  oleh H. Kern dia adalah seorang ahli Epigrafi dari belanda yang kerja di Batavia.

Mulanya dia menganggap  bahwa Sriwijaya merupakan nama Raja. George Coedes lalu mengatakan bahwa Sriwijya ialah nama dari kerajaan di Sumatera pada abad ke 7 Masehi.

Dan Prasasti Kota Kapur kini masih ada di Rijksmuseum museum Amsterdam. Prasasti ini terlebih dahulu di ketemukan sebelum Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuwo. Dari prasasti ini di jelasakan bahwa  Sriwijaya telah berkuasa atas sebagaian wilayah Lampung, Sumatera, Pulau Bangka dan Belitung.

READ  Biografi Presiden Soekarno Lengkap Perjalanan Hidupnya

Dalam Prasasti Kota Kapur sudah di jelaskan bahwasanya Sri Jayasana telah melaksanakan  Hukuman Militer Bhumi jawa  bagi yang menentang kekuasaan Sriwijya. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan runtuhnya Tarumanegara di Jawa Barat dan juga Kerajaan Kalingga akibat dari serangan kerajaan Sriwijaya. Dan kini sriwijya berhasil menguasai penuh atas jalur perdagangan Maritim, Selat Sunda dan juga laut Jawa.

2. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor di Ketemukan di Nakhon Si Thammarat Thailand di bagian selatanyang mempunyai tektur pahatan di bagian ke dua sisinya. Di bagaian sisi pertama di beri nama Prasasti Ligor A atau Manuskrip Vian Sa. Dan di sisi satunya lagi di namakan Prasasti Ligor B yang di ciptakan oleh raja dari wangsa Sailendra.

Yang menceritakan tentang pemberian nama gelar Visnu Sesawarimadwimathana untuk Sri Maharaja. Prasasti Ligor A mengisahkan tentang Raja Sriwijaya sedangkan Prasasti Ligor B Mengisahkan tentang Nama Visnu yang mempuyai gelar Sri Maharaja dari keluarga Sailendravamsa serta mendapat julukan Sesavvarimadavumathna yang artinya Pembunuh musuh yang sombong sampai tak tersisa.

3. Prasasti Telaga Batu

Peninggalan Kerajaan sriwijaya Berikutnya yakni, Prasasti Telaga batu yang di temukan di kolam Telaga Biru, Kelurahan kecamatan Ilir Timur II di kota Palembang pada tahun 1935. Yang isinya tentang kutukan untuk orang yang berbuat jahat di kedaulatan Sriwijya dan saat ini masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti Telaga Batu Di pahat di dalam Batu Andesit dengan ketinggian 118 cm dan lebar 148 cm. di bagian atas nya ada hiasan 7 kepala ular kobra serta bagian tengah nya terdapat pancuranair.

Prasasti itu memiliki 28 baris dengan huruf pallawa dan memakai bahasa melayu kuno. Isi dari tulisan itu ialah kutukan mengenai mereka yang berprilaku jahat terhadap kedatuan Sriwijaya dan tidak mematuhi titah dari datu.

READ  Sejarah Dan Perkembangan Wayang Kulit Di Tanah Jawa

Caparis lalu menngemukakan pendapatnya bahawa orang termasuk berbahaya dan menentang kedatuan Sriwijaya akan di sumpah yakni (rajaputra) untuk putra raja, (kumaramatya) untuk menteri, (bhupati) untuk bupati dst.

4. Prasasti Kedukan Bukit

Peningggal Kerajaan Sriwijaya berikutnya ialah Prasasti Kedukan Bukit yang di ketemukan pada tanggal 29 November 1920 oleh M. Batenburg di Kampung Kedukan Bukit. Lebih jelasnya di tepi sungai Tatang yang yang mengalir menuju sungai Musi. Prasasti Kedukan Bukit memiliki ukuran 45cm x 80cm menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruff pallawa.

Isi nya mengenai tentang seorang utusan dari Kerajaan Sriwijaya yakni, Dapunta Hyaang melakukan Sidhayarta atau perjalanan suci menggunak perahu. Dalam perjalanan itu, dian di temani dengan 2000 prajurit dan berhasil mengalahkan sebagian daerah lainnya.

Di dalam baris ke 8 terdapat unsure tanggal, tetapi di bagian sudah menghilang yang sebenarnya di isi dengan bulan. Menurut prasasti NO. D161 yang di ketemukan pada ditus Telaga Batu J.G de Casparis .

Serta M.Boechari di tulis dengan nama bulan Asada sehingga  prasasti itu menjadi sempurna. Hari ke-5 paro terang bulan Asada yang tepat dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi. George Coedes beranggapan bahwa Siddhayatra mempunyai arti ramuan  bertuah akan tetapi bisa diartikan lain.

Dari Prasasti Kedukan Bukit di dapatkan data yakni, Dapunta Hyang yang pergi dari Minanga lalu menundukkan wilayah dimana di ketemukan prasasti Sungai Musi Sumatera Selatan. Dengan persamaan suara, maka ada juga yang berpendapat bahawa Minanga Tamwan merupakan Minangkabau.

Sebagian lagi beranggapan bahwa Minanga tidak sama seperti halnya Melayu dan ke dua wilayah itu berhasil di tundukkan oleh Dapunta Hyang. Soekmono berpendapat bahwa Minanga Tamwan merupakan pertemuan 2 sungai.

READ  Sejarah Dan Peninggalan Samudra Pasai

Dan sebagian lagi beranggapan Minanga berubah menjadi Binanga yaitu, sebuah wilayah yang ada di hilir Sungai Barumun, Sumatera Utara. Sedangkan yang lainnya berpendapat bahwa armada yang di pimpin oleh Jayanasa berasal dari Semenanjung Malaya.

Di dalam bukunya, Kiagus Imran Mahmud menjelaskan bahwa Minanga tidak mungkin berarti Minangkabau sebab ungkapan ini baru ada setelah masa Kerajaan Sriwijaya.

5. Prasasti Talang Tuwo

Dalam prasasti Talang Tuwo ini berisikan niat dari Baginda yakni, semoga yang di tanam di sini, pohon klapa, pinag , aren , sagu dan bermacam-macam  pohon. Buahnya dapat di makan demikian juga bambu haur, wuluh, dan pattum. Dan semoga juga tanaman- tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya serta semua amal yang telah saya berikan dapat dipergunakan untuk kebaikan semua makhluk.

Yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk medapatkan kebahagiaan . . . . “Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan. Semoga mereka menemukan makanan serta air minum.

Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih panennya. Semoga suburlah ternak bermacam-macam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak- budak milik mereka .

Semoga mereka tidak terkena malapetaka , tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan rasi menguntungkan mereka. Dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka.

Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka bagi istri yang setia.

Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan ataupun pembunuhan dan penzinah .

demikian ulasan singkat mengenai 5 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya semoga bermanfaat>>>

No Responses

Add Your Comment