Sejarah Kerajaan Kutai Dan Peninggalan (Pengertian,Raja-Raja dan Gambar)

Author: | Posted in sejarah indonesia No comments

Sejarah Kerajaan Kutai Dan Peninggalan – mengerti kah kalian mengenai Kerajaan Kutai ?? Jika kalian belum mengerti kalian sangat tepat sekali mengunjungi pintasilmu.com.

Bahwasanya saya akan membahas mengenai Sejarah Kerajaan Kutai dan peninggalan.

Sejarah Kerajaan Kutai

Sejarah Kerajaan

Sejarah Kerajaan Kutai Dan Peninggalan

Kerajaan Kutai memiliki tradisi politik secara turun temurun, dalam artian kata pemerintahan selalu dilanjutakan oleh generasi selanjutnya meliputi anak,cucu sampai cicit nya.

Peraturan ini sudah di berlakukan mulai kerajaan kutai di pimpin oleh Aaswawarman. Akan tetapi kepemimpinan masih di pegang oleh orang Hindu.

Yang berasal dari Negara india akibatnya pemerintahan menjadi teratur dan disiplin. Sementara itu untuk kekuasaan kerajaan kutai memiliki wilayah yang sangat luas.

Yang meliputi 3 kabupaten yaitu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara  dan Kutai Timur dan ketiganya masih dalam cakupan Provisnsi Kalimantan Timur.

Sementara aktivitas kehidupan budaya kerajaan Kutai yakni kerajaan Hindu yang bisa kita lihat dari di ketemukannya kalung Siwa di Danau Lipan Kawasan Kaman.

Selain itu pada evaluasi yang di gelar 2001 yang lalu di ketemukan lagi berupa relief kawasan Gunung Marang yang terletak di sebelah Utara Kota Balikpapan. Di temukan pula berupa artefak .

Untuk aktivitas kehidupan sosialnya masyarakat dan keagamaannya menggunakan bahasa Sansekerta yang di gunakan menjadi bahasa lazim dan resmi untuk masalah agama. Dan untuk pekerjaan masyarakat Kerajaan Kutai kebanyakan sebagai ternak Sapi dan petani serta pedagang.

Masyarakat mulai bekerja menjadi pedagang dan mejalin kerja sama denga sangat baik dengan Negara lain seperti Negara India dan China.

Sedangkan penguasa terkhir kerajaan kutai yang menyebabkan runtuhnya kerajaan kutai  ketika pada saati di pimpin oleh Maharaja Dharma Setia yang di bunuh di tangan Raja kerajaan Kutai Kartanegara ke 13 yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

Akibat peristiwa itu kini Kerajaan Kutai  berputar menjadi Kerajaan islam yang di kenal dengan nama Kutai Kartanegara.

Raja-Raja Kerajaan Kutai

Berikut ini Raja-Raja yang pernah memerintah di Kerajaan kutai :

1. Raja Kudungga

Raja

Raja Kudungga

Raja Kudungga ialah raja pertama dari Kerajaan Kutai. Pada awalnya di duga kudunggak merupakan seorang kepala suku yang bersamaan masuknya pengaruh budaya hindu.

Akibat dari hal itu maka Kudungga mengubah system kepemimpinannya menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya sebagai raja.

2. Raja Aswawarman

Raja

Raja Aswawarman

Raja Aswawarman merupakan keturunan langsung dari Kudungga yang dijuluki dengan Dewa Ansuman atau Dewa Matahari. Raja Aswawarman di anggap sebagai pendiri kerajaan kutai sehingga dapat gelar Wangsakerta dengan artian sebagai Pembentuk Keluarga.

Pada Prasasti Yupa juga di jelaskan bahwa Raja Aswawarman merupakan raja yang kuat sehingga kerajaannya bisa semakin luas dan di tandai dengan pelaksanaan upacara Asmawedha.

3. Raja Mulawarman

Raja

Raja Mulawarman

Raja Mulawarman merupakan seorang raja yang meliki perananan besar di kerajaan Kutai dan merupakan cucu dari raja Kudungga atau anak dari Raja Aswawarman.

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Kutai

Setelah membahas tentang sejarah kerajaan kutai kini saya akan membahas mengenai peninggalan bersejarah dari kerajaan Kutai.

1. Prasasti Yupa

Prasasti Yupa adalah salah satu bentuk peninggalan dari kerajaan kutai paling tua dan benda ini di jadikan sebagai bukti sejarah Kerajaan Hindu di provinsi Kalimantan.

Terdapat 7 Prasasti peninggalan dari kerajaan kutai salah satunya ialah yupa, merupakan tiang batu yang

Yang digunakan untuk mengikat hewan ataupun manusia sebagai persembahan para DEwa dan pada tiang itu terdapat tulisan kuno yang di pahat.

Tulisan tersebut di tulis dengan menggunakan huruf Pallawa namaun dari ke 7 prasasti tersebut tidak ada satupun yang mencantumkan tahun pembuatannya sehingga susah di ketahui tanggal pembuatan ke 7 prasasti tersebut.

Prasasti Yupa menceritakan tentang kehidupan berpolitik. Prasasti pertama mengisahkan tentang raja kudungga yang mengenalkan bahwa dia asalnya bukan dari keluarga kerajaan. Pada Yupa juga di tuliskan bahwa di waktu pemerintahan Asmawarman.

Di kerajaan kutai mengadakan upacara Aswemedha yang merupakan upacara pelepasan kuda sebagai tanda batas wilayah kerajaan kutai. Kudunggan mempunyai seorang putra yang bernama Aswawarman dan dia mempunyai 3 anak putra yang di juluki tiga api suci.

Mulawarman merupakan anak yang terkenal karena sikapnya yang sangat tegas, kuat dan penyabar. Di waktu ke pemimpinan Mulawarman , kerajaan kutai mencapai masa ke jayaannya sesudah pemerintahan Mulawarman.

Mulawarman di kenang dalam salah satu Yupa karena rasa dermawan yang tinggi dengan mempersembahkan 20 ribu ekor pada golongan Brahman dan di katakana sebagai cucu dari kudungga.

Isi Prasasti Yupa mengenai kehidupan di bidang politik pada abad 4 Masehi, kerajaan kutai sudah banyak ikut agama hindu sehingga pemerintahan kerajaan sangat teratur seperti pemerintahan di india.

Kehidupan social pada waktu kerajaan kutai sudah berkembang pesat mengikuti masa dan masyarakat juga mulai mengetahui tradisi dari dari india dan mengembangkannya sesuai tradisi di Indonesia.

Pada saat Raja Mulawarman memberikan upeti berupa 1000 ekor lembu dan sebatang pohon kelapa kepada sang Brahmana yang berwujud menyerupai api.

Isi Prasasti Yupa mengenaai aspek kebudayaan masyarakat sangat antusian terhadap agama yang mereka yakini dan prasasti Yupa merupakan hasil budaya masyarakat Kutai. Tugu batu merupakan salah satu warisan budaya dari nenek moyang Indonesia. Pada saat masa Meghalitikum yaitu kebudayaan Menhir.

Prasasti juga menyimpan tempat suci dengan Vaprakecvara yang memiliki ukuran luas sebagai tempat pemujaan dewa siwa dan mengenalkan agama hindu yang di yakini adalah Hindu Siwa.

Tanda lain yang menjelaskan kejayaan kerajaan kutai dari segi perekonomian tertulis dalam salah satu Yupa.  Menjelaskan bahwa Mulawarman sering mengadakan upacara korban emas besar-besaran dan munculnya golongan terdidik.

Golongan didik tersebut yakni, para kesatria dan juga Brahmana yang diperkirakan sudah melaksanakan perjalanan jauh sampai india .

Isi yupa yang mengisahkan kehidupan agama menerangkan kerajaan kutai, bahwa kerajaan nya sangat berkembang pesat khususnya pada zaman pemerintahan Asmawarman. Berkembangnya agama hindu di kerajaan kutai di temukannya tempat suci yang bernama Waprakeswara. Waprakeswara merupakan tempat suci untuk memuja dewa Syiwa.

2. Ketopong Sultan

Ketopong merupakan salah satu makhkota sultan kerajaan Kutai yang di bahannya terbuat dari emas dengan berat 1.98 kg serta di lengkapi dengan hiasan permata.dan  tersimpan di Museum Nasional Jakarta  Ketopong Sultan di ketemukan sekitar tahun 1890 tepatnya di daerah Muara Kaman.

Sementara itu yang di pajang di Museum Mulawarman adalah ketopong mitasi, mahkota ini telah di gunakan oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada tahun 1845-1899 dan juga di gunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara.

Ketopong dengan bentuk mahkota brunjungan dan pada bagian depan muka berbentuk meru dengan motif spiral dipadukan dengan motif sulur. Di bagain belakang mahkota terdapat bentuk garuda mungkur bermotif bunga, kijang dan burung.

3. Kalung Ciwa

Kalung Ciwa berhasil di temukan pada zaman kerajaan Sultan Aji Muhammad Sulaiman sekitar tahun 1890 oleh seorang penduduk sekeliling danau Lipan, Muara Kaman.

Kalung Ciwa sampai sekarang masih di gunakan untuk perhiasan kerajaan dan sudah pernah di pergunakan oleh Sultan pada waktu pengangkatan sultan baru.

4. Kalung Uncal

Merupakan kalung yang bahannya terbuat dari emas 170 gram berhiaskan liontin dengan dinding bergambar yang menceritakan tentang kisah Ramayana. Kalung ini di pakai sebagai atribut kerajaan kutai  Martadipura dan di kenakan oleh sultan Kutai Kartanegara.

Dari evaluasi yang telah di laksanakan kalung ini berasal dari India dengan julukan Unchele dan masih terdapat 2 lagi kalung uncal yang berada di india dan di Museum Mulawarman. Kalung Unchal memiliki bentuk bulat dengan panjang 9 cm yang terbuat dari bahan emas 18 karat.

Pada kalung itu juga terdapat ukiran dewi Shinta dengan Sri Rama yang sedang memanah seekor babi. Dan juga terdapat 4 buah bentuk bulatan dan 2 diantaranya di pasang dengan batu permata kalung ini juga berperan besar dalam penentuan penobatan raja.

Ada 2 kemungkinan kalung ini bisa dipakai dengan catatan yakni pada saat pelantikan dan pernikahan. Pemakain kalung ini di peruntukan hanya sultan atau raja saja. Sebelum di pakai ka nada syarat yang harus dilakukan seperti bakar kemenyan dan juga membacakan basawai.

Di india kalung Unchal hanya ada 2 pasang di dunia karena hanya digunakan oleh Sri Rama dan Dewi Shinta. Disaat Sri Rama berhasil merampas kembali Dewi Shinta dari tangan dasamuka Rahwana, maka dia bimbang apakah istrinya masih suci dan belum tersentuh oleh Dasamuka Rahwana.

Timbulnya kecurigaan ini di sebabkan karena hilangnya kalung Unchal dari leher Dewi Shinta. Demi meyakiknkan Sri Rama maka dewi Shinta minta di buatkan api unggun yang paling besar.

Untuk membakar dirinya sebagi bukti bahwa dia masih suci dan dia berkata apabila saya masih suci saya akan tetap hidup dan apabila saya sudah ternoda maka saya akan hangus terbakar  Dewi Agni. Shinta pun terjun ke dalam kobaran api yang sangat besar.

Akan tetapi selang waktu kemudian, muncul dari api sebuah singgasana yang terbang perlahan dan berhenti di depan Sri Rama dan nampaklah Dewi Shinta duduk sambil tersenyum menatap Sri Rama.

Kalung itu di sebut kepunyaan Ratu Kudungga dan jika kalung ini masih belum bisa bersatu dan berdampingan. Di pastikan india tidak bisa hidup tentram dan makmur.

5. Kura-Kura Emas

Merupakan Peninggalan dari kerajaan Kutai dan sekarang di simpan di Museum Mulawarman dengan ukuran setengah kepalan tangan. Kura-kura emas ini di temukan di daerah Long Lalang yang terletak sekitar hulu Sungai Mahakam.

Benda ini merupakan pemberian dari pangeran kerajaan untuk seorang putri raja yakni Aji Bidah Putih. Dan pangeran sempat memberikan benda unik lainnya sebagai bukti keseriusan untuk meminang sang putri.

Kura-Kura emas terbuat dari bahan emas 23 karat berbentuk kura-kura alat ini di pakai dalam acara upacara pelantikan Sultan Kutai Kartanegara. Dalam kepercayaan orang hindu kura-kura ini sebagai symbol dari wujud Dewa Wisnu.

Demikian ulasan singkat mengenai Sejarah Kerajaan Kutai Dan Peninggalan semoga bermanfaat>>>

READ  Sejarah Dan Mitos Candi Cetho Karanganyar

Add Your Comment